Kenapa NTT?

DSCF2894

Kapan terakhir kali anda merasa tersentuh akan kebaikan orang lain?

Mendapatkan bantuan dari orang asing yang terasa begitu tulus, tanpa mengharapkan imbalan?

Selama 35 hari perjalanan keliling NTT, sulit rasanya mengingat kapan hari dimana saya tidak merasa bersyukur atas kebaikan yang saya terima dari orang asing. Aneh rasanya membayangkan, betapa sapaan yang saya terima dari orang yang saya temui sepanjang perjalanan terasa begitu hangat, membuat saya ingin membalas sapaan mereka dengan senyuman. Sangat berbeda dibanding dengan sapaan yang saya terima dari para pemuda yang setiap malam nongkrong di warnet samping rumah, yang membuat saya ingin melepas anjing herder peliharaan tetangga agar mereka jera.

Bagi penduduk NTT, terutama di pedesaan, menyapa setiap orang yang ditemui di jalan adalah hal yang sangat lazim dilakukan. Terutama jika anda adalah dua orang perempuan dengan penampakan yang jelas-jelas tidak menyerupai penduduk lokal, maka semakin banyak orang yang dengan antusias akan menyapa anda. Jangan heran bila berpapasan dengan sekelompok anak-anak yang sedang berjalan kaki sepulang sekolah, yang akan menyapa anda dengan nyaring “SIANG KAKAK!”. Tidak perlu ragu untuk membalas sapaan mereka, karena mereka tidak akan serta merta mengeluarkan produk Giordano dari tas sekolah mereka dan memaksa anda untuk membelinya.

Menurut saya, NTT adalah tempat yang sangat ideal untuk para solo traveler, ataupun para traveler berjenis kelamin perempuan yang seringkali merasa tidak aman jika harus bepergian ke tempat asing. Selama 35 hari perjalanan saya bersama Nidinda, tidak pernah sekalipun saya merasa terancam ataupun merasa tidak aman saat berada di tempat asing. Bahkan disaat Nidinda mulai mengeluarkan jurus menawar ala pemerintah komunis kala berbelanja di pasar tradisional, yang seringkali membuat jantung saya berdebar kencang membayangkan tindak anarki yang mungkin dilakukan oleh sang penjual, pada akhirnya kekhawatiran saya tersebut tidak pernah terbukti. Wajah mereka yang cenderung sangar ternyata berbanding terbalik dengan hati mereka yang lembut seperti permen kapas koala-la.

Seorang bidan yang bersedia menampung kami di rumahnya di Pulau Pantar, keluarga guru yang memberikan kami tumpangan dan makanan di Pulau Adonara, seorang bapak yang menawarkan untuk mengantar kami dari Lewoleba menuju Lamalera menempuh perjalanan selama 6 jam pulang pergi tanpa imbalan apa-apa, hingga sekelompok orang luar biasa di Waikabubak yang bersedia menampung kami di rumahnya dan mengantarkan kami bertamasya hingga ke pelosok Sumba Barat Daya. Daftar tersebut hanya sebagian kecil dari kebaikan tak terhingga yang kami terima dari orang-orang yang baru kami jumpai untuk pertama kalinya.

Perjalanan ini membuat saya merenung, kapankah terakhir kali saya tidak merasa curiga terhadap orang asing yang datang ke rumah saya, seperti kecurigaan terhadap teman lama yang tetiba menghubungi dan mengajak bertemu. Mereka semua menerima kami dengan tangan terbuka, tanpa curiga, dan mengabaikan resiko bahwa mungkin saja kami adalah duet perampok bersenjata. Atau agen MLM yang sedang mencari downliner.

Bersama Kepala Suku Boti dan keluarganya

Bersama keluarga Kepala Adat Suku Boti, di Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Di dalam bis

5 jam perjalanan melintasi pulau Lembata dari Wairiang menuju Lewoleba

Mandi

Pemandian umum air panas di desa Moni, Flores

caption

NTT, rumah yang selalu memanggil saya untuk pulang

About Audrey Jiwajennie

Former national swimmer. Lecturer. Dive instructor. Swimming coach. Ecotourism consultant. Multitasker.

110 responses to “Kenapa NTT?”

  1. Aloy Bora Sudi says :

    NTT memang daerah yang eksotik,,, banyak destinasi wisata yang akan menjejak begitu dalam ke relung hatimu sampai-sampai kamu lupa kalau berada di lua rumah,,,,

  2. bataonamargamagda says :

    ^_^ ya begitulah🙂 silahkan kunjungi lagi daerah NTT yang penuh dengan tempat2 menarik yang masih murni🙂

  3. yudaa says :

    NTT memang orangnya ramah baik walaupun tampannya sangar tp hatinya baik,kunjungi lg daerah daerah lain,seperti sumba tengah di daerah kami banyak tmpat wisata yg bagus

  4. Abdul Risal Wahar says :

    kampung halaman saya🙂

  5. enjelynmonfort says :

    Bangga…!!
    Kami dari NTT mungkin miskin ilmu,miskin teknologi,dan lain sebagainya….
    tp kami tidak miskin akan morall…..!!
    Terima kasih atas kunjungannya…

  6. elly koto says :

    i want try this trip i hope i am lucky like yours

  7. jeny says :

    Makasih audry buat tulisanx. Ntt memang selalu menjadi tempat paling nyaman …. kami tunggu kedatangan berikutx di pulau rote

  8. lokasirumah says :

    Audrey,….saya suka tulisanmu. Di Adonara pastilah kamu melintasi Waiwerang dan ketika pergi ke Lamalera, pastilah melintas di Boto dan Puor. ‘Mereka’ adalah rumah yang selalu memanggil saya untuk pulang… Terimakasih telah bersaksi tentang kampungku. Sukses selalu & GBU!

  9. silvialanda89 says :

    NTT punya banyak sekali tempat Wisata yg indah, masih alami dan blm terekplor. Mulai dari Pantai, air terjun juga banyak festival budaya yang unik2

  10. R-Qev says :

    saya ank NTT asli…sngat brterima kasih sudah menulis ttg NTT walaupun cm beberapa tmpat yg didatangi..
    kami bisa dibilang kolot,blo’on dan dungu akan teknologi dan kemewahan dikota2 besar…tp untuk kehidupan sosial, kamilah org yg mungkin kamu cari..
    TTS(kampung boti) sdh didatangi..dtg lagi ke TTU(kefamenanu) dan Atambua..disana byk tempat yg menarik…thax

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: